SEJARAH ANGKA 0 Part. 1

Menurut beberapa catatan sejarah, angka nol pada dasarnya sudah ada sejak zaman Babilonia yang sudah ada sejak ratusan sebelum masehi. Pada masa itu, konsep angka nol ini lebih sering dipakai oleh orang-orang Babilonia untuk melakukan penghitungan terhadap musim yang akan terjadi. Penggunaan angka nol yang dilakukan oleh para ilmuwan pada saat itu disebabkan belum adanya angka-angka seperti saat ini. Angka nol mewakili suatu ketiadaan yang sudah sebenarnya sudah disadari oleh orang-orang pada zaman Babilonia atau bahkan ratusan tahun sebelum masehi.

Setelah beratus-ratus tahun, angka nol digunakan untuk menghitung musim, barulah di abad ke-7 Masehi, angka nol dikenal sebagai angka dan digunakan dalam ilmu matematika.  Konsep angka nol ini pertama kali muncul ada di India. Menurut budaya India, angka nol yang dilambangkan dengan gambar lingkaran menandakan bahwa lingkaran kehidupan. Ahli matematika yang berasal dari India merupakan seorang astronot dan ia bernama Brahmagupta. Beliau melakukan berbagai macam penelitian terhadap bilangan dan salah satu dari bilangan itu adalah angka nol.

Selain itu, Brahmagupta bukan hanya melakukan penelitian terhadap angka atau bilangan saja, tetapi juga memberikan simbol pada angka, salah satu simbol itu diberikan pada angka nol berupa 0. Tidak hanya melakukan penelitian terhadap angka nol saja, Brahmagupta juga mengembangkan penelitian berupa aturan operasi terhadap bilangan dengan angka nol. Angka nol yang mulai dikembangkan oleh Brahmagupta bisa digunakan untuk melakukan penghitungan dengan angka lainnya. Dengan kata lain, angka nol bisa digunakan dalam operasi penghitungan, seperti penjumlahan, pengurangan hingga perkalian.

Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin modern membuat konsep angka nol yang telah dikembangkan oleh Brahmagupta mulai dikenal oleh masyarakat Timur Tengah. Pada masa itu, perkembangan ilmu pengetahuan dunia Islam sedang berada di puncak kejayaannya. Hingga pada akhirnya, datanglah seorang astronom yang berasal dari India dan ia bernama Kankah.

Khalifah Al Mansur merupakan pemimpin yang didatangi oleh Kankah dengan membawa buku yang berjudul Shindind. Buku itu berisi tentang cara menghitung pergerakan bintang dengan akurat. Khalifah Al Mansur yang membaca buku tersebut mulai mengalami ketertarikannya, sehingga ia memberikan perintah kepada ilmuwan yang ada di Bayt al Hikmah (sebuah tempat bagi para ilmuwan muslim untuk memperdalam ilmu pengetahuan) untuk menerjemahkan buku dengan judul Shindid ke dalam bahasa Arab. Kemudian, seorang ilmuwan, Muhammad Al Fasari mulai menjalankan perintah dari Khalifah Al Mansur. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa arab jadilah buku dengan judul Shind al Hindi Kabir.

Di saat angka nol dari Brahmagupta sudah mulaii masuk ke dalam dunia Islam, ada seorang ilmuwan sekaligus ahli matematika tertarik untuk melihat dan memahami kitab yang berjudul Shind al Hindi Kabir. Kemudian, Muhammad ibn Musa Al-Kharizmi atau lebih dikenal dengan nama Al-Khawarizmi mulai melakukan penyempurnaan terhadap kitab yang telah dibaca sebelumnya. Beliau menyempurnakan kitab tersebut menggunakan metode penghitungan yang berasal dari angka nol Brahmagupta. Hasil dari penyempurnaan yang telah dilakukan dicatat dalam sebuah kitab yang berjudul Al-Jami wa Al-Tafriq bi Hisab Al-Hind.

Hingga pada akhirnya, kitab yang ditulis oleh Al-Khawarizmi ini mulai disebarluaskan ke daratan Eropa walaupun menghadapi beberapa hambatan. Setelah kitab tersebut tersebar di daratan Eropa maka diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menghasilkan buku yang berjudul Algoritmi de Numero Indorum. Tersebarnya kita tersebut ke daratan Eropa menjadi penanda awal mula ilmu algoritma dari Al-Khawarizmi mulai berkembang.


Comments