TEORI TEORI PENDIDIKAN
Teori-Teori Pendidikan
Sebuah teori adalah sebuah sistem konsep-konsep yang terpadu, menerangkan, dan memprediksi. Sebuah teori pendidikan adalah sebuah sistem konsep-konsep yang terpadu, menerangkan dan prediktif tentang peristiwa-peristiwa pendidikan. Teori pendidikan ada yang berperan sebagai asumsi atau titik tolak pemikiran pendidikan dan ada yang berperan sebagai definisi menerangkan makna. Asumsi pokok pendidikan adalah:
- Pendidikan adalah aktual, artinya pendidikan bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar dan lingkungan belajarnya.
- Pendidikan adalah normatif, artinya pendidikan tertuju pada mencapai hal-hal yang baik atau norma-norma yang baik.
- Pendidikan adalah suatu proses pencapaian pendidikan berupa serangkaian kegiatan bermula dari kondisi-kondisi aktual dan individu yang belajar, tertuju pada pencapaian individu yang diharapkan.
Gambaran
pendidikan dilihat dari teori pendidikan secara faktual adalah aktivitas
sekelompok orang dan guru yang melaksanakan kegiatan pendidikan untuk orang-orang
muda dan secara prespektif memberi petunjuk bahwa pendidikan adalah muatan,
arahan, pilihan yang telah ditetapkan sebagai wahana pengembangan masa depan
anak didik yang tidak terlepas dari keharusan kontrol manusia. Pemahaman
mengenai pendidikan mengacu pada konsep tersebut menggambarkan bahwa pendidikan
seperti sifat sasarannya yaitu manusia mengandung banyak aspek dan sifatnya
sangat kompleks. Karena sifatnya yang demikian kompleks tersebut, maka tidak
suatu batasan pun yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara
lengkap.
Teori pendidikan merupakan landasan dalam pengembangan
praktik-praktik pendidikan, misalnya pengembangan kurikulum, proses belajar
mengajar, dan manajemen sekolah. Kurikulum dan pembelajaran memiliki
keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum dan
rencana pembelajaran disusun dengan mengacu pada teori pendidikan.
Ada empat
teori pendidikan, yaitu:
1. Teori pendidikan klasik (classical education).
Teori
pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti perenialisme,
essensialisme dan eksistensialisme, yang memandang bahwa pendidikan berfungsi
sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori
pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses. Isi
pendidikan atau materi di ambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan
dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan
sistematis. Dalam praktiknya, pendidikan mempunyai peranan besar dan lebih
dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima
informasi dan tugas-tugas dari pendidik. Pendidikan klasik menjadi sumber bagi
pengembangan model kurikulum subjek akademis, yaitu suatu kurikulum yang
bertujuan memberikan pengetahuan yang solid serta melatih peserta didik
menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”, melalui metode ekspositori dan
inkuiri.
2. Teori pendidikan personal (personalized
education).
Teori
pendidikan ini bertolak dari asumsi sejak dilahirkan anak telah memiliki
potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi
yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta
didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan
pendidikan hanya menepati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing,
pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.
Teori ini
memiliki dua aliran yaitu pendidikan progresif dan pendidikan romantik.
Pendidikan progresif dengan tokoh pendahulunya, Francis
Parker dan John Dewey memandang
bahwa peserta didik merupakan satu kesatuan yang utuh. Materi pengajaran
berasal dari pengalaman peserta didik sendiri yang sesuai dengan minat dan
kebutuhannya. Ia merefleksi terhadap masalah-masalah yang muncul dalam
kehidupannya. Berkat refleksinya itu, ia dapat memahami dan menggunakkannya
bagi kehidupan. Pendidik lebih merupakan ahli dalam metodologi dan membantu
perkembangan peserta didik sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya
masing-masing. Pendidikan romantik berpangkal dari pemikiran-pemikiran J.J
Rouseau tentang tabularasa, yang memandang setiap individu dalam keadaan
fitrah, memiliki nurani kejujuran, kebenaran dan ketulusan.
Teori
pendidikan personal menjadi sumber bagi pengembangan kurikulum humanis,
yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan
mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi
diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan
pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).
3. Teknologi pendidikan.
Teknologi
pendidikan, yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan
pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi.
Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, yang
lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau
kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya alam.
Dalam konsep
pendidikan teknologi, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang
khusus. Isi pendidikan berupa objek dan keterampilan yang mengarah kepada
kemampuan vokasional. Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain
pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika, dan
para peserta didik belajar secara individual. Peserta didik berusaha untuk
menguasai sejumlah besar bahkan dan pola-pola kegiatan secara efisien.
Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Pendidik
berfungsi sebagai direktur belajar (director of learning),
lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman
bahan.
Teknologi
pendidikan menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum, yaitu model
kurikulum yang bertujuan memberikan penguasaan kompetensi bagi para peserta
didik. Pembelajaran dilakukan melalui metode pembelajaran individual, media
buku ataupun media elektronik, sehingga pembelajar dapat menguasai
keterampilan-keterampilan dasar tertentu.
4. Teori pendidikan interaksional.
Pendidikan
interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran
manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama
dengan manusia lain. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga
berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan
interaksi dua pihak dari pendidik kepada peserta didik dan dari peserta didik
kepada pendidik. Lebih dari itu, interaksi ini juga terjadi antara peserta
didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran
manusia dengan lingkungannya. Interaksi ini terjadi melalui berbagai bentuk
dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari
fakta-fakta. Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta
tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya
dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu
filsafat rekonstruksi sosial.
Pendidikan
interaksional menjadi sumber untuk pengembangan model kurikulum rekonstruksi
sosial, yaitu model kurikulum yang memiliki tujuan utama menghadapkan para
peserta didik pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan
yang dihadapi manusia. Peserta didik didorong untuk mempunyai pengetahuan yang
cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan
bekerja sama untuk memecahkannya.
DAFTAR PUSTAKA
https://elanurainiblog.wordpress.com/2016/04/09/teori-teori-pendidikan/
Comments
Post a Comment