Implementasi Nilai-Nilai Islam di Dalam Lingkungan Sekolah
Untuk mengetahui perbedaan pengimplementasi nilai-nilai islam di lingkungan
sekolah, dilakukan observasi langsung dengan cara wawancara kepada guru Pendidikan
Agama Islam di setiap masing-masing sekolah yang dikunjungi. Observasi dilakukan
di dua sekolah pada jenjang SMA/ sederajat, yaitu di SMA Negeri 13 Depok dan
SMK Hutama. Observasi dilakukan bertujuan untuk mengetahui cara mengimplementasikan
nilai-nilai islam dengan suatu kegiatan atau prpgram yang dilaksanakan oleh
masing-masing sekolah.
Berdasarkan hasil wawancara pada sekolah pertama bersama Bapak Lisep
Rohimat, S. Pd. I selaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Neger 13
Depok, nilai-nilai islam yang diterapkan dalam sekolah tersebut berupa kegiatan
pembiasaan baik, seperti salat duha, tadarus quran, klinis iqra. Pelaksanaan
salat duha dilakukan secara bergantian dan terjadwal, hal ini dikarenakan
beberapa fasilitas sekolah yang belum memadai untuk melakukan salat duha secara
keseluruhan dari semua peserta didik. Kegiatan tadarus quran sebelumnya sempat
terjadwal dalam waktu satu minggu sekali dengan target setiap satu kelas
membaca satu juz. Karena suatu hal kegiatan ini masih disesuaikan dengan jadwal
yang ada dan juga kondisi dari lingkungan sekolah tersebut. Klinis iqra adalah salah
satu program yang telah terselenggarakan dari pihak sekolah, untuk dapat
membantu peserta didik yang masih belum fasih atau bahkan belum mampu untuk
membaca quran dengan lancar. Selama masa covid 19, kegiatan ini sempat terjeda.
Namun saat ini sudah dilaksanakan kembali dengan rutin. Sasaran utama dalam
kegiatan klinis quran tersebut ialah peserta didik kelas 10 dan kelas 11 yang
belum fasih atau bahkan belum mampu untuk dapat membaca quran. Dan terlaksankan
pada setiap semester, dengan tahapan awal peserta didik melakukan tes baca
tulis quran oleh masing-masing guru PAI, jika dalam tahap awal guru menemukan
peserta didik yang mendapat rekomendasi untuk mengikuti klinis quran tahapan
selanjutnya akan ada bimbingan secara berkala dalam kegiatan tersebut. Dengan
harapan ketika pesera didik telah lulus dari jenjang SMA tersebut, peserta
didik mampu untuk membaca quran. Selama peserta didik megikuti kegiatan klinis
iqra ini telah difasilitasi dan di dukung penuh oleh pihak sekolah dengan
menghadirkan pembimbing dari luar sekolah, dan diilaksanakan setiap seminggu
sekali untuk menghasilkan hasil yang maksimal selama proses pembelajaran
berkala.
Adanya kegiatan klinis iqra ini memberikan respon yang bervariasi dari
peserta didiknya, dimulai dari respon yang baik dan mau mengikuti kegiatan
teserbut degan rasa sungguh-sungguh dalam belajar, dan ada juga yang menolak
untuk mengikuti kegiatan tersebut. Pihak sekolah terus berupaya untuk melakukan
koordinasi dengan wali kelas dan orang tua dari peserta didik untuk dapat bisa
mensupport masing-masing anak mengikuti kegiatan ini. Dimana guru juga akan
melakukan koordinasi langsung dengan peserta didik untuk dapat mengikuti
kegiatan ini sebagai umpan balik dalam mendapatkan nilai tambahan pada mata
pelajaran PAI bagi peserta didik yang mau mengikuti kegiatannya.
Tidak hanya kegiatan itu saja, di SMA Negeri 13 Depok juga rutin mengadakan
kegiatan implementasi nilai-nilai islam di lingkungan sekolah yang dilaksanakan
berdasarkan suatu momentum, sepertu maulid Nabi, isra Mi’raj, tahun Baru Islam
dan Pesantren Kilat.
Observasi kedua dilakukan di SMK HUTAMA dengan mewawancarai Ibu Sarah,
Selaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas 10 dan kelas 11. SMK HUTAMA
merupakan sekolah swasta umum, meskipun demikian sekolah ini tetap menerapkan
nilai-nilai islam dalam kegiatan sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan secara
rutin pada hari Kamis dan Jum’at. Dimana pada hari Kamis, peserta didik akan
melaksanakan salat duha secara berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan membaca
quran dan ratib pada saat sebelum memulai pelaksanaan pembelajaran. Dan pada
hari Jum’at bagi peserta didik laki-laki diwajibkan untuk melaksanakan salat
jum’at di masjid sekolah. Untuk peserta didik perempuan akan ada kegiatan
keputrian selama kegiatan salat jum’at berlangsung. Respon peserta didik pada
kegiatan ini mulanya sedikit ada keterpaksaan untuk mengikuti, namun seiring
berjalannya waktu timbul rasa terbiasa dengan berbagai upaya dari pihak sekolah
yang telah dilakukan.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk konsistensi peningkatan partisipasi
peserta didik dalam mengikuti kegiatan ini dengan adanya absensi yang terdapat
di meja piket sebagai tolak ukur. Dengan maksud untuk bisa membiasakan peserta
didik dalam hal kedisiplinan selama melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang
muslim. Untuk per absensian ini hanya di salurkan kepada wali kelas, jika
terdapat peserta didik yang terhitung jarang mengikuti kegiatan ini akan
diberikan nasihat dan bimbingan lanjutan agar dapat mengikuti kegiatan
tersebut. Respon dari orang tua peserta didik sendiri menyampaikan kesan dari
kegiatan tersebut sangat baik, tidak sedikit orang tua yang menyampaikan kesan
baik kepada pihak sekolah terkait kebiasaan anaknya yang sekarang jadi
melakukan salat duha dan sudah mempunyai hafalan walaupun hanya beberapa ayat.
Untuk kegiatan keputrian sendiri tidak hanya mengenai ilmu-ilmu islam saja,
melainkan mencakup ilmu kehidupan, seperti bumbu dapur, kelas menjahit dan lain
sebagainya yang di pandu oleh guru perempuan yang telah terjadwal waku dan materi
yang akan disampaikannya nanti. Sehingga kegiatan ini jelas didikung oleh pihak
sekolah karena melibatkan peran guru secara langsung. Apabila terdapat peserta
didik yang tidak mengikuti kegiatan pembiasaan baik ini yang telah melebihi
dari tiga kali absensi, maka peserta didik tersebut akan diberikan sanksi
berupa hafalan surat oleh guru piket yang bertugas saat itu.
Dari kedua observasi yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa tiap-tiap
sekolah memiliki progam pembiasaan baik yang berkaitan dengan pengimplementasi
nilai-nilai islam dengan tujuan untuk dapat membantu peserta didik memiliki
bekal kedispilinan dan dapat taat sebagai seorang muslim akan kewajibannya.
Kesamaan kegiatan baik yang dimiliki oleh kedua sekolah ini adalah pembiasan
salat duha dan tadarus quran. Dimana kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan
positif untuk peserta didik menjadi lebih taat dan dekat terhadap Allah SWT.
Dan pastinya semua program yang telah terlaksanakan untuk implementasi nilai
islam ini harus didikung penuh oleh sekolah dan terus dikembangkan oleh seluruh
oihak yang terlibat didalam dunia pendidikan. Dimana diharuskan dalam menuntut
ilmu hendaknya harus seimbang dengan urusan duniawi dan akhiratnya. Semoga
kedepannya semua pihak yang terlibat dapat konsisten untuk terus melaksanakan
kegaitan tersebut dan terus dapat mengupayakan peningkatan motivasi peserta
didik untuk dapat mengikuti program-programbaik dari masing-masing sekolah. Dan
peserta didik juga dapat bisa merasakan manfaatnya kegitka mengikuti program
tersebut dan bisa menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Comments
Post a Comment